Sejarah Perkembangan Sosiologi

Sejarah Perkembangan Sosiologi | Sebelum kita melihat sejarahnya, ada baiknya kita lihat dulu apa itu sosiologi. Secara umum, sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang masyarakat. Kalau dari asal katanya, sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan atau teman. Sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. August Comte (1798-1857) adalah orang pertama yang memakai istilah ini dalam bukunya “Cours De Philosophie Positive.” Sumber: Wikipedia

Meskipun berdiri sebagai suatu disiplin ilmu mandiri kurang dari 200 tahunan, namun sebenarnya pemikiran tentang masyarakat dan kemasyarakatan sudah muncul sejak jamannya Plato. Mari kita runut sejarah perkembangan sosiologi sebagai berikut ini.

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Jaman Keemasan Filsafat Yunani

Pada masa ini sosiologi dipandang sebagai bagian tentang kehidupan bersama secara filsafat. Pada masa itu Plato (429-347 SM) seorang filsuf terkenal dari Yunani, dalam pencariannya tentang makna negara dia berhasil merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup kehidupan sosial dan ekonomi. Plato menganggap bahwa institusi-institusi dalam masyarakat saling bergantung secara fungsional. Kalau ada satu institusi yang tidak jalan maka secara keseluruhan kehidupan masyarakat akan terganggu. Seperti halnya Plato, maka Aristoteles (384-322 SM) juga menganggap bahwa masyarakat adalah suatu organisme hidup (seperti pandangan kaum biologiwan) dengan basis kehidupannya adalah moral (yang baik). Pada masa ini kaum agamawan yang berkuasa sehingga kehidupan sosial lebih diwarnai oleh keputusan-keputusan kaum agamawan yang berkuasa.

Jaman Renaissance (1200-1600)

Machiavelii adalah orang pertama yang memisahkan antara politik dan moral sehingga terjadi suatu pendekatan yang mekanis terhadap masyarakat. Di sini muncul ajaran bahwa teori-teori politik dan sosial memusatkan perhatian pada mekanisme pemerintahan. Sejak masa ini maka pengaruh kaum agamawan mulai memperoleh tantangan.

Abad Pencerahan (abad ke 16 dan 17)

Pada masa ini muncul Thomas Hobbes (1588-1679) yang mengarang buku yang dikenal sebagai The Leviathan. Inti ajarannya diilhami oleh hukum alam, fisika dan matematika. Pada masa ini pengaruh keagamaan mulai ditinggalkan dan digantikan oleh pandangan-­pandangan yang bersifat hukum sebagai kodrat keduniawiannya. Berdasar pandangan kelompok inilah kemudian muncul suatu kesepakatan antar manusia (kelompok) yang dikenal sebagai kontrak sosial. Pada mulanya interaksi antar manusia berada dalam kondisi chaos karena saling mencurigai dan saling bersaing untuk memperebutkan sumber daya alam dan manusia yang ada. Kondisi yang bersifat kodrati (sesuai dengan hukum alam) ini kemudian dipandang akan selalu menyengsarakan kehidupan manusia. Oleh sebab itu dibuatlah kesepakatan-kesepakatan pengaturan antar kelompok yang dapat saling berterima dan saling menguntungkan, yang kemudian dikenal sebagai kontrak sosial.

Abad Ke 18

Pada masa ini munculah John Locke (1632-1704) yang dianggap sebagai bapak Hak Asasi Manusia (HAM). Dia berpandangan bahwa pada dasarnya setiap manusia mempunyai hak-hak dasar yang sangat pribadi yang tidak dapat dirampas oleh siapapun termasuk oleh negara (seperti hak hidup, hak berpikir dan berbicara, berserikat, dan lain-lain). Tokoh lain yang muncul adalah J.J. Rousseau (1712-1778) yang masih berpegang pada ide kontrak sosialnya Hobbes. Dia berpandangan bahwa kontrak antara pemerintah (negara) dengan yang diperintah (rakyat) menyebabkan munculnya suatu kolektifitas yang mempunyai keinginan­-keinginan tersendiri yang kemudian menjadi keinginan umum. Keinginan umum inilah yang harusnya menjadi dasar penyusunan kontrak sosial antara negara dengan rakyatnya.

Abad ke 19

Abad ke 19 dapat dianggap sebagai abad mulai berkembangnya sosiologi, terutama sesudah Auguste Comte (1798-1857) memperkenalkan istilah sosiologi, sebagai usaha untuk menjawab adanya perkembangan interaksi sosial dalam masa industrialisasi. Pada masa ini sosiologi dianggap mulai dapat mandiri. Kondisi yang baru dalam taraf mulai mandiri ini disebabkan walaupun sosiologi sudah dapat menunjukkan adanya obyek yang dijadikan fokus pembahasan (interaksi manusia), namun di dalam pengembangan ilmunya masih menggunakan metode-metode ilmu-ilmu yang lain (ilmu ekonomi misalnya).

Abad ke 20

Baru pada abad ke 20 inilah sosiologi dapat benar-benar dianggap mandiri karena:

  1. Mempunyai obyek khusus yaitu interaksi antar manusia,
  2. Mampu mengembangkan teori-teori sosiologi,
  3. Mampu mengembangkan metode khusus sosiologi untuk pengembangan sosiologi,
  4. Sosiologi menjadi sangat relevan dengan semakin banyaknya kegagalan pembangunan karena tidak mendasarkan dan memperhatikan masukan dari sosiologi.

Pada akhir abad ke 20 ini, maka salah satu kelemahan (masih dianggap ketinggalan) dari sosiologi, namun yang pada saat ini juga sudah mulai dapat dipecahkan, yaitu dalam kaitannya dengan perkembangan dan permasalahan global. Di sini interaksi antar manusia yang dapat diamati adalah adalah interaksi tidak langsung lewat telepon, internet, dan lain-lain yang menghubungkan manusia yang saling berjauhan letaknya. Sumber: Kuswan

Sejarah Perkembangan Sosiologi

Loading...

Para Pendiri Sosiologi

Sampai saat ini, yang disebut sebagai Bapak Sosiologi adalah Auguste Comte, Karl Marx, Max Weber, dan Emile Durkheim. Sementara para pemikir sebelumnya tidak dianggap sebagai pendiri Sosiologi. Mungkin karena ke-empat orang inilah yang pemikirannya menjadi dasar teori-teori Sosiologi modern sampai saat ini. Meskipun tidak berarti pemikiran dan Plato, Aristoteles, Machiavelli, John Locke, Thomas Hobbes, J.J. Rousseau, dan lain-lain di kesampingkan begitu saja. Pemikiran mereka tentang masyarakat, hubungan antar individu, hubungan negara dengan rakyat, dan hak asasi manusia tetap menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pembahasan Sosiologi.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa pemikiran Auguste Comte, Karl Marx, Max Weber, dan Emile Durkheim –lah yang memberi stimulan diskusi panjang tentang pelbagai persoalan terkait dgn kehidupan ekonomi, politik, dan kebudayaan.

  1. Auguste Comte (1798-1857)
    Auguste Comte (Perancis, 1798-1857) mengemukakan istilah awal: SOCIAL PHYSICS (FISIKA SOSIAL) karena istilah ini sudah digunakan oleh ahli statistik sosial Belgia Adophe Quetelet, maka istilah diubah menjadi sociology.
    Auguste Comte membagi sosiologi ke dalam dua pendekatan yakni:
    1. Statika sosial (social static): mengkaji tatanan sosial. Statika mewakili stabilitas.
    2. Sosial dinamik: mengkaji kemajuan dan perubahan social. Dinamika mewakili perubahan. Progress dalam membaca fenomena sosial perlu melihat masyarakat secara keseluruhan sebagai unit analisis.
    Dengan memakai analogi dari biologi, Comte menyatakan bahwa hubungan antara statika dan dinamika merujuk pada konsep order didalamnya ditekankan bahwa bagian-bagian dari masyarakat tidak dapat dimengerti secara terpisah, tetapi harus dilihat sebagai satu kesatuan yg saling berhubungan.
  2. Karl Marx (1818-1883)
    Karl Marx lahir di Trier, Jerman tahun 1818 dari kalangan keluarga rohaniwan Yahudi. Tamat dari perguruan tinggi menjadi editor di sebuah surat kabar di Jerman. Pandangannya amat kritis terutama sangat anti penindasan yang hadir bersama sistem kapitalis yang mewarnai peradaban Eropa Barat. Beliau pindah ke Paris setelah terjadi pertentangn dengan pemerintah Jerman. Ia berkolaborasi dengan Friedrich Engels menulis buku berjudul The Communist Manifesto (1848). Lalu menulis buku: Das Capital, dua bab terakhir buku ini diteruskan oleh Engels karena Marx keburu meninggal.
    Menurut Marx, sejarah manusia mulai dari pertanian primitive, feudal dan industri, ditandai hubungan social yg melembagakan sifat ketergantungan untuk mengontrol atau menguasai sumber-sumber ekonomi. Mereka yg menguasai dan mengonytol sumber-sumber ekonomi adalah kelas atas, seangkan mereka yg hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak punya sama sekali adalah dari kelas bawah. Terjadi penindasan oleh kelas atas terhadap kelas bawah. Fokus perhatian Marx pada dua kelas penting: BORJUIS (kelas atas/kapitalis yg memiliki memiliki alat-alat produksi seperti pabrik dan mesin) dan PROLETAR (kelas bawah/ para buruh yg bekerja pada borjuis).
    Pendapat Marx terhadap fenomena sosial semacam itu (penindasan /eksploitasi kaum borjuis terhadap kaum proletar) hanya dapat dihentikan dengan cara mengganti atau merusak system kapitalis. Caranya dengan melakukan revolusi (prinsip konflik) kemudian menggantinya dengan sistem yg lebih menghargai martabat manusia. Ini tidak mudah karena para buruh harus menghilangkan False Consciousness (kesadaran palsu) dengan class consciousness kesadaran kelas. Melalui bimbingan pemimpin-pemimpin revolusioner, para buruh akan menjadi setia dan mau berkorban demi perjuangan kelas. Dengan demikian akan muncul masyarakat yang adil, sama rata sama rasa, dan terhindar dari segala bentuk eksploitasi, ini yang disebutnya sebagai masyarakat komunisme modern. Disamping dipuja banyak orang, Marx juga dikecam banyak orang, terutama pendapatnya tentang “agama sebagai candu masyarakat“ (the opium of the people).
  3. Max Weber (1864-1920)
    Max Weber lahir di Erfurt, Jerman berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ayahnya seorang birokrat (kelak akan mewarnai pikiran beliau tentang birokrasi) yg menduduki posisi politik penting, sedangkan ibunya adalah seorang pemeluk agama Calvinisme yg sangat taat (juga mempengaruhinya melakukan studi tentang kaitan etika protestan dengan spirit kapitalisme industrial).
    Beliau menempuh kuliah di Universitas berlin belajar hukum. Setelah berhasil mengambil gelar doctor ia berprofesi sebagai praktisi hukum, di samping itu ia juga bekerja sebagai dosen di Universitas Wina dan Munich. Ia banyak mendalami masalah ekonomi, sejarah, dan sosiologi. Bukunya yg terkenal berjudul “A Contribution to the histoy of Medieval Business Organizations” dan “The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism” (1904). Dalam bukunya yg kedua ini ia mengemukakan tesisnya mengenai keterkaitan antara etika protesan dengan munculnya kapitalisme di Eropa Barat.
    Pandangan Weber, kenyataan sosial lahir dari motivasi individu dan tindakan-tindakan social (social action). Dari pandangannya sebenarnya Weber lazim digolongkan “nominalis” yang lebih percaya bahwa hanya individu-individu sajalah yg riil secara obyektif, dan masyarakat adalah satu nama yg menunjukan pada sekumpulan individu yg menjalin hubungan. Pandangan beliau tentang tindakan sosial inilah yg kemudian menjadi acuan dikembangkannya teori sosiologi yg membahas interaksi sosial.
  4. Émile Durkheim (1858-1917)
    Lahir di Epinal, Perancis dan berasal dari keluarga yg mewarisi tradisi sebagai pendeta Yahudi. Durkheim sebenarnya bersekolah untuk menjadi pendeta.
    Durkheim merupakan ilmuwan yg sangat produktif. Salah satu karyanya yg berjudul “The division of Labor in Society” (1968) membahas mengenai gejala yg sedang melanda masyarakat: pembagian kerja. Ia mengemukakan bahwa di bidang perekonomian seperti industri modern terjadi penggunaan mesin serta konsentrasi modal dan tenaga kerja yg mengakibatkan pembagian kerja ke dalam bentuk spesialisasi dan pemisahan okupansi yg semakin rinci. Pembagian tersebut dijumpai pula di bidang perniagaan dan pertanian. Lalu melebar pula pada bidang-bidang kehidupan yg lainnya: hukum, politik, kesenian, dan bahkan keluarga. Tujuan kajian Durkheim ialah untuk memahami fungsi pembagian kerja tersebut, serta untuk mengetahui faktor penyebabnya. sumber: Pengantar Sosiologi

Semoga artikel tentang sejarah perkembangan sosiologi ini bisa sedikit banyak membantu kamu untuk sekadar mengerjakan tugas, atau yang lebih serius memang benar-benar mau memelajari sosiologi. Jika kamu membacanya untuk mengerjakan tugas, maka yang ini wajib baca: Aturan Menulis Rerefensi atau Daftar Pustaka dari Internet. Paling tidak nanti kamu tidak disalahkan guru atau dosen ketika menulis sumber atau rujukannya.

Loading...