Mitos Seputar Baterai Laptop, Smatphone, dan Tablet

Anda mengalami masalah dengan baterai nge-drop? Di charge sebentar sudah penuh, tapi begitu dipakai sebentar sudah habis lagi? Atau baterai menggembung bak masuk angin berat? Hehe …. Sebagai bagian penting dari perangkat elektronik sehari-hari, seperti laptop, smartphone, dan tablet, rasanya bisa mual-mual kalau baterai sudah seperti itu.

Meskipun teknologi pembuatan baterai berumur lebih lama dari lahirnya perangkat yang saya sebut tadi, ternyata dalam perkembangannya, teknologi baterai berkembang tidak secepat saudara-saudaranya itu. Entah sebentar lagi, ketika era device melengkung mulai dikembangkan, seperti LG G Flex dan Samsung melengkung yang sedang ramai dibicarakan itu, mungkin teknologi baterai akan lebih cepat berkembang dan applicable.

Selain perkembangan teknologi baterai yang lambat, tumbuh juga kesalah-pahaman orang tentang baterai. Ini kayaknya wajar. Dengan perkembangan yang lambat, orang terlanjur biasa dengan cara memperlakukan baterai lama. Ketika ada baterai jenis baru, perlakuan dan anggapan tentang baterai lama itu masih tetap ada, dijaga, dan dilestarikan. Saking lamanya mereka bercokol di otak kita. Jadilah, baterai jenis baru tetap diperlakukan dengan perlakuan yang sama. Muncullah mitos-mitos keliru tentang baterai. Kebanyakan mitos tersebut, bukan hanya tidak perlu untuk baterai jenis baru, tapi juga cenderung membahayakan baterai baru ini. Mau tahu? Baca terus…

Biarkan baterai habis, baru recharge

baterai laptop nge-drop

Loading...
Baterai lama – NiMH dan NiCd – memiliki apa yang disebut sebagai ‘memory effect’ dan harus habis daya-nya sebelum di charge ulang untuk menjaga kemampuan maksimal kapasitas simpan daya listriknya. Baterai jenis baru – Lithium Ion – bekerja dengan cara berbeda, dan tidak memiliki ‘memory effect’ tadi. Kanyataannya, membiarkan baterai Li-Ion habis baru kemudian di charge ulang itu sangat buruk. Lebih baik melakukan shallow discharge, atau pengisian ualng saat kapasitas baterai di level 40-70%. Usahakan tidak sampai membiarkan level baterai di bawah 20% baru di isi ulang. Kecuali dalam keadaan terpaksa.

Pernah dengar tentang charging cycle? Jangan khawatir shallow charging akan berbahaya. Jika pada level 50% anda isi ulang baterai anda sampai penuh, kemudian anda memakainya sampai 50% lagi dan mengisinya lagi, itu hanya dihitung sebagai 1 cycle, bukan 2 cycle pengisian.

Masalahnya hanya satu. Shallow discharge bisa membingungkan Windows dengan pengukuran daya simpan serta estimasi waktu tersisa baterai laptop anda. Itu sebabnya, kebanyakan pembuta laptop merekomendasikan untuk melakukan full discharge sampai 0% setiap bulan, untuk membantu kalibrasi ulang baterai anda. baca: Cara manual mengkalibrasi baterai laptop

Suhu tidak mempengaruhi baterai

Keliru. Suhu sangat mempengaruhi masa pakai baterai. Smartphone bisa sangat panas ketika sedang dipakai bermain game atau secara intens mengakses internet. Tapi frekuensi dan durasinya berbeda dengan laptop. Laptop bisa sangat panas dalam waktu yang lama. Dan itu memperlemah baterainya.

Upayakan tidak menempatkan baterai di tempat yang bisa terlalu panas, atau terlalu dingin. Meskipun tidak sedang dipakai. Misalnya, membiarkan laptop (beserta baterainya) berada dalam mobil yang diparkir di tempat yang panas. Atau menyimpan baterai anda dalam freezer. (ada loh yang menyarankan begitu…)

Tidak masalah menyimpan baterai dalam keadaan kosong

Baterai sampai kosong total itu memang jarang terjadi. Tapi ketika itu terjadi, sebaiknya anda secepatnya mengisinya ulang. Memang anda tidak perlu berlarian hanya untuk menge-charge Android anda misalnya. Tapi jika kemudian anda meninggalkan HP anda itu di dalam laci sampai berminggu-minggu tanpa mengisi ulang baterainya, itu masalah besar. Ketika baterai dibiarkan kosong dalam waktu lama, bisa jadi baterai tersebut tidak akan bisa dicharge lagi. Alias rusak total.

Simpan Baterai Dalam Keadaan Penuh Terisi

Sementara, menyimpan baterai dalam keadaan penuh ternyata jga tidak baik. Masa pakainya bisa berkurang secara signifikan. Idealnya, simpanlah baterai ketika dia terisi 50%. baca juga: Cara melihat kapasitas baterai laptop

Mencolokkan Laptop Ke Listrik Sepanjang Waktu Itu Tidak Masalah

Ini memang kontroversial. Banyak pendapat berseliweran mengenai hal ini. Tapi, pada dasarnya, adalah baik-baik saja untuk terus menancapkan colokan ke PLN meskipun baterai sudah penuh. Masalah yang anda hadapi adalah panas. Dan kita tahu, panas tidak baik untuk baterai. Toh, sebenarnya, laptop anda tidak akan terus menerus mengisi baterai jika memang baterainya sudah penuh. Tidak ada istilah over charged di sini. Bahwa Apple melarang laptopnya terus terhubung dengan jaringan listrik itu urusan lain.

Jadi kesimpulannya, adalah bukan masalah terus menerus membiarkan laptop terhubung listrik, asal anda tahu laptop anda tidak sedang sangat panas. Misalnya anda hendak bermain game, atau mengedit video, atau aktivitas lain yang menuntut laptop bekerja dalam kondisi puncak yang jelas akan membuatnya ekstra panas, sebaiknya lepaskanlah baterainya.

Selama Digunakan Dengan Baik, Baterai Tidak Akan Bermasalah

Seperti semua jenisa baterai yang lain, baterai jenis Li-Ion juga akan melemah seiring berjalannya waktu. Apple berpendapat bahwa baterai laptop akan melemah sampai tinggal 80%nya, setelah di isi ulang sebanyak 1000 kali. Pabrikan lain mengatakan rata-rata baterai mereka akan tinggal 80%nya setelah 300 – 500 kali isi ulang.

Pada level ini, baterai masih akan bisa dipakai. Tetapi kapasitasnya akan terus menurun seiring penggunaan dan waktunya. Panas dan usia akan mengurangi masa pakai baterai. baca juga; Kapan Harus Mengganti Baterai Laptop?

Jadi, apapun yang anda lakukan untuk menjaga baterai anda, mereka tetap akan melemah pada waktunya. Kita bisa membuatnya bekerja lebih lama, tapi tidak bisa membuatnya awet sepanjang masa. Ya, kalau baterainya mati, berarti kita musti siapkan uang untuk beli baterai baru. Haha…. sumber: HTG

Loading...

Jangan ragu untuk berkomentar ya....