Menulis? Kenapa harus di tunda?

Rupanya memang agak sulit untuk menulis, terutama jika kegiatan ini sudah lama tidak lagi dilakukan. Dulu, ketika saya masih SMP dan SMA, saya secara rutin menulis. Beberapa hari yang lalu, ketika saya berberes-beres kamar, saya menemukan beberapa buku tulis yang di dalamnya ada beberapa tulisan dan puisi yang saya buat. Beberapa membuat saya tersenyum, beberapa membuat saya sedih, dan beberapa membuat saya dengan jelas dapat mengingat peristiwa tertentu dengan jelas. Tulisan saya itu juga membuat saya terkejut, bahwa dulu, saya bisa menulis!!!

Pekerjaan saya yang sekarang sebenarnya menuntut saya untuk banyak menulis. Atau paling tidak memaksa saya untuk berurusan dengan pena dan kertas. Tetapi kenyataannya, justru tidak banyak tulisan saya yang layak dibaca-ulang. Tidak jelas apa penyebabnya. Mungkin ada peralihan perhatian yang saya alami. Atau mungkin juga karena saya tidak lagi punya banyak waktu untuk berbincang dengan diri saya sendiri. Sehingga menulis menjadi sesuatu yang tidak ada dalam prioritas keseharian saya lagi.

Mengapa Mengetik Posting Blog Setiap Hari

Loading...

Selain itu, saya juga menyadari, sekarang saya tidak lagi pernah membaca dalam artian yang sebenarnya. Saya tidak lagi bisa menyelesaikan sebuah novel dalam semalam. Tidak lagi secara rutin mengunjungi perpustakaan. Membaca, lebih banyak saya lakukan untuk mempersiapkan pekerjaan saya. Saya tidak lagi menikmati membaca sebagai kegiatan rekreatif-inspiratif. Jujur saja, saya iri dengan ayah saya, yang tidak tamat SD dan seorang petani, tetapi masih punya waktu dan -terutama- kemauan untuk menghidupi otaknya dengan membaca.

Saya sekarang sudah menikah. Jelas ini membawa konsekuensi terhadap kegiatan ‘bergila-ria’ berbincang dengan diri sendiri. Komputer saya ada di dalam kamar, dan saya sungguh tidak merasa nyaman menulis ketika ada orang lain. Juga sangat tidak enak untuk menolak orang lain -terutama- istri sendiri ketika dia mengajak berbicara atau bercerita, padahal saya sedang di tengah jalan.

Beberapa hari lalu saya menyampaikan gagasan mengenai blog dan email kepada ‘kelompok’ saya. Sesuatu yang aneh ketika di hari begini banyak anggota kelompok saya yang tidak tahu-mengerti-peduli-kepingin punya atau paling tidak ngeh tentang hal ini. Padahal mereka ini berasal dari kelompok yang secara finansial mampu. Hp mereka paling tidak seharga 1 jutaan begitu. Kasihan juga sebenarnya, mereka punya alat dan fasilitas tapi tidak bisa memakainya.

Ketika saya mewajibkan mereka untuk paling tidak mempunyai account email, beberapa dari mereka cukup antusias. Hampir separuh dari anggota kelompok saya aktif di friendster, tapi rata-rata mereka memakai alamat email fiktif untuk aktivasi friendster mereka. Hanya seperlima dari mereka yang mempunyai account email, dan hanya 4 orang dari sekitar 80 orang yang secara rutin mengakses email mereka. Benar-benar parah.

Untuk selanjutnya, saya akan mengajak mereka untuk aktif juga menulis, dengan mempunyai web-log sendiri.

Menulis? Kenapa harus di tunda?

Loading...

Jangan ragu untuk berkomentar ya....