Inilah Alasan Mengapa Penjualan Xperia Terus Menurun, Versi dee-nesia

Jika anda fans Sony dan sekarang sedang memakai salah satu produk Xperia, sedikit banyak akan merasa penasaran, mengapa Xperia tidak laku sampai-sampai belakangan tersiar kabar kalau Sony akan melepas divisi mobile-nya. Berita yang tidak menyenangkan bagi pecinta produk Sony, Xperia utamanya.

Pengguna Xperia juga banyak yang jadi khawatir dengan kelanjutan smartphone yang mereka gunakan. Pastinya akan ada jeda atau bahkan berhentinya update untuk Xperia di masa depan jika sampai pindah tangan atau berhenti beroperasi.

Kalau sampai beberapa waktu ke depan Sony masih melakukan analisis mendalam mengapa Xperia tidak laku ini, maka kemungkinan besar Sony akan melepas alias menjual divisi mobile-nya. Bukan menghentikan salah satu divisi yang pernah menjadi sumber keuntungan besar bagi finansial Sony ini. Saya juga tidak rela nih, hiks…. Sedih. Karena bagi saya, Xperia Adalah Smartphone Yang Memberi Pengalaman Terbaik Memakai Android.

Di posting ini, saya akan mencoba sok pintar dengan memaparkan kira-kira apa dan mengapa Xperia tidak laku. Ini versi dee-nesia loh. Jadi jangan di bully kalau ngaco atau tidak masuk akal.

Sony Market Share 2014

credit foto: Android Authority

Munculnya pesaing dengan spesifikasi hardware bagus berharga murah

Semua orang tahu, bahwa Asus dengan seri Zenfone-nya itu benar-benar mengubah peta harga smartphone dunia. Dengan spesifikasi bagus, harga sangat murah karena berhasil menggandeng (atau digandeng?) Intel sebagai penyedia processor-nya. Intel berambisi besar mengambil alih pasar processor mobile dari tangan Qualcomm dan pemain lainnya, macam MTK. Dan kabarnya Intel memberi potongan harga sangat besar sehingga Asus bisa memroduksi Zenfone mereka dengan harga sangat murah.

Belum lagi kehadiran pemain lain yang juga bermain di level harga rendah dengan mempertahankan spesifikasi yang lumayan, macam Huawei, Oppo, Lenovo, dan terutama Xiaomi. Bikin bingung milihnya wis.

Karena kemunculan mereka, maka pasar pemain utama macam Sony dan Samsung menjadi limbung.

Sony terlalu fokus di produk flagship

Keputusan Sony untuk mengurangi produksi Xperia low end di akhir 2012 lalu itu sebenarnya juga karena merasa tidak akan bisa memenangkan pasar Android low end melawan pesaing yang semakin banyak di segmen pasar ini. Maka Sony memutuskan untuk fokus di pasar high-end.

Masalahnya, itu tadi. Untuk membuat produk yang high-end atau flagship, butuh dana, energi, dan waktu yang panjang. Jika anda mengikuti pola bagaimana biasanya Sony beriklan tentu ingat, bagaimana di sekitar tahun 2011-2013, pengguna harus menunggu waktu terlalu lama setelah diumumkan sampai akhirnya produk itu muncul di pasar. Kalau jualan produk flagship-nya kurang laku gimana dunk nantinya?

Sony mempercepat siklus peluncuran flagship baru

Kalau sekarang, agak berbeda. Dalam setahun, Sony bisa mengeluarkan dua buah produk flagship. Ini membuat pembeli jadi ragu, jangan-jangan tidak lama lagi sudah keluar yang lebih baru. Jadi terasa mubazir dunk beli yang ini.

Sony menghabiskan terlalu banyak dana dan sumber daya di R&D

Masih terkait dengan pengembangan produk di atas. Banyak yang beranggapan, sebenarnya dana cadangan Sony tidak dalam kondisi aman sejak beberapa tahun belakangan ini. Tapi tampaknya mereka tetap memberi prioritas prosentase dana yang besar untuk biaya Research and Development.

Sangat bagus sih bagi kita penggunanya. Tapi ketika kondisi tidak bagus begini, langkah seperti itu bisa menjadi boomerang yang memukul balik menjadi beban keuangan Sony.

Sony terlalu memanjakan pengguna dengan sering memberi update firmware

Jika kita, maksud saya pengguna Xperia, mau jujur melihat nasib pengguna Android merek lain, sebenarnya Sony itu sudah terlalu murah hati untuk memberi update berupa aplikasi dan firmware Xperia kita tercinta. Kecuali dibandingkan – sekali lagi Asus – Sony ini sudah memberikan layanan purna jual yang sangat luar biasa dari sisi software. Hitung saja, berapa kali Xperia yang kita gunakan mendapatkan update firmware.

Ada loh tetangga yang dari pada memberi update firmware yang tidak memberi keuntungan finansial apapun itu, dia malah merilis smartphone baru yang spesifikasi hardware-nya tidak berbeda sama sekali. Cuman beda bentuk sedikit ditambah OS versi lebih baru. Anda pasti tahu maksud saya.

Sony itu Service Center-nya buruk banget

Saya memang tidak pernah mengalami sendiri tentang betapa buruknya service center Sony. Hanya terlalu banyak komplain yang diungkap orang tentang ini.

Selama saya memakai Xperia, belum pernah mendapat produk yang cacat atau bermasalah serius. Saya juga tipe pengguna yang tidak peduli dengan garansi, sehingga bisa dipastikan setelah maksimal 3 hari itu Xperia pasti sudah UBL, wkwkwkwk

Tak pelak, buruknya service center ini juga membuat calon pengguna mikir. Takut kalau ada masalah dengan Xperia-nya trus jadi sulit atau lama memperbaikinya.

Meskipun saya setuju kalau ada yang bilang Xperia itu bukan smartphone Android terbaik, tapi saya punya Alasan Mengapa Saya Tetap Pilih Xperia.

Dari sekian banyak alasan mengapa Xperia kog tidak laku diatas, menurut saya, yang paling dominan adalah karena kemunculan Asus dan Xiaomi. Mereka muncul dengan produk bagus harga murah dan cara penjualan yang berbeda.

Bagaimana menurut anda? Apakah memang begitu, atau ada penyebab lain?

Jangan biarkan teman kamu kudet & kuper, bagikan info ini

(Dibaca 14,748 kali, hari ini 10 kali)
15 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *