Cerita Mahabarata

Sedang kebingungan mencari cerita Mahabarata? Di Indonesia, kisah pewayangan yang banyak dikenal orang adalah cerita Mahabarata ini, selain cerita Ramayana. Dari kedua cerita pewayangan tersebut, berkembanglah berbagai cerita atau biasa disebut sebagai lakon. Mirip dengan dunia teater ya…. Hehe…, kalau diperhatikan memang wayang mirip dengan teater, bedanya, kalau teater setiap karakter dimainkan oleh satu orang, sedangkan wayang semua karakter dalam cerita atau lakon tersebut dimainkan oleh satu orang saja. Yaitu sang dalang.
Cerita Mahabarata adalah kisah atau wiracarita sastra Hindu Klasik. Ceritanya sendiri, sesuai dengan namanya, berputar pada cerita keluarga Bharata. Rentang waktu sebagai latarnya berlangsung antara masa 400 tahun sebelum dan sesudah Masehi. Pengarangnya adalah Wiyasa atau biasa ditulis dengan huruf V (Viyasa).
cerita MahabarataDari sisi penulisan, epos Mahabarata ini terdiri dari 100.000 seloka. (Satu seloka terdiri dari dua baris, dan setiap barisnya terdiri dari 16 suku kata. Keseluruhan cerita Mahabarata itu terbagi menjadi 18 jilid / parwa. Itulah sebabnya cerita Mahabarata juga disebut sebagai Asta Dasa Purwa. (Asta=hasta=delapan, dasa=sepuluh, parwa=jilid). Kalau keliru, mohon kritik dan sarannya ya…
Meski berasal dari India, cerita Mahabarata ini sangat terkenal di Indonesia, khususnya pada suku Jawa, sehingga, bisa dikatakan bahwa kisah cerita hidup para tokoh karakter dari cerita Mahabarata, khususnya Pandawa menjadi semacam patokan dari baik tidaknya karakter seseorang.
Pada tahun 1000 Masehi, pada jaman pemerintahan Darmawangsa, epos Mahabarata ini mulai disadur ke dalam bahasa Jawa. Dan pada abad ke-15, epos ini kemudian disadur ke dalam bahasa Melayu dan ditulis menggunakan huruf Jawi (Kawi).
Bagian-bagian cerita yang sempat disadur ke dalam bahasa Melayu ketika itu meliputi:
  1. Hikayat Pandawa Lima
  2. Hikayat Perang Pandawa Jaya
  3. Hikayat Sang Boma
  4. Hikayat Langlang Buana
Cerita Mahabarata secara singkat (sinopsis)
Secara garis besar, cerita Mahabarata bercerita mengenai kehidupan Prabu Santanu atau Sentanu (Çantanu). Dia adalah seorang raja keturunan keluarga Kuru yang menjadi raja kerajaan Barata. Dia mempunyai permaisuri bernama Dewi Gangga, dan berputra Bisma.
Isi epos Mahabarata secara garis besar mengisahkan kehidupan Santanu (Çantanu) seorang raja yang perkasa keturunan keluarga Kuru dan bertakhta di kerajaan Barata. Bersama permaisurinya Dewi Gangga, mereka dikaruniai seorang putra bernama Bisma.
Pada suatu hari Çantanu jatuh cinta pada seorang anak raja nelayan bernama Setyawati. Namun ayahanda Setyawati hanya mau memberikan putrinya jika Çantanu kelak mau menobatkan anaknya dari Setyawati sebagai putra mahkota pewaris takhta dan bukannya Bisma. Karena syarat yang berat ini Çantanu terus bersedih. Melihat hal ini, Bisma yang tahu mengapa ayahnya demikian, merelakan haknya atas takhta di Barata diserahkan kepada putra yang kelak lahir dari Setyawati. Bahkan Bisma berjanji tidak akan menuntut itu kapan pun dan berjanji tidak akan menikah agar kelak tidak mendapat anak untuk mewarisi takhta Çantanu.
Perkawinan Çantanu dan Setyawati melahirkan dua orang putra masing-masing Citranggada dan Wicitrawirya. Namun kedua putra ini meninggal dalam pertempuran tanpa meninggalkan keturunan. Karena takut punahnya keturunan raja, Setyawati memohon kepada Bisma agar menikah dengan dua mantan menantunya yang ditinggal mati oleh Wicitrawirya, masing-masing Ambika dan Ambalika. Namun permintaan ini ditolak Bisma mengingat sumpahnya untuk tidak menikah.
Akhirnya Setyawati meminta kepada Wiyasa, anaknya dari perkawinan yang lain, untuk menikah dengan Ambika dan Ambalika. Perkawinan dengan Ambika melahirkan Destarasta dan dengan Ambalika melahirkan Pandu.
Destarasta lalu menikah dengan Gandari dan melahirkan seratus orang anak, sedangkan Pandu menikahi Kunti dan Madrim tapi tidak mendapat anak. Nanti ketika Kunti dan Madrim kawin dengan dewa-dewa, Kunti melahirkan 3 orang anak masing dengan dewa Darma lahirlah Yudistira, dengan dewa Bayu lahir Werkodara atau Bima dan dengan dewa Surya lahirlah Arjuna. Sedangkan Madrim yang menikah dengan dewa kembar Aҫwin, lahir anak kembar bernama Nakula dan Sadewa. Pusing ya…, sama… hehe…
Selanjutnya, keturunan-keturuan itu dibagi dua yakni keturunan Destarasta disebut Kaum Kurawa sedangkan keturunan Pandu disebut kaum Pandawa.
Sebenarnya Destarasta berhak mewarisi takhta ayahnya, tapi karena ia buta sejak lahir, maka takhta itu kemudian diberikan kepada Pandu. Hal ini pada kemudian hari menjadi sumber bencana antara kaum Pandawa dan Kurawa dalam memperebutkan takhta sampai berlarut-larut, hingga akhirnya pecah perang dahsyat yang disebut Baratayuda yang berarti peperangan memperebutkan kerajaan Barata.
Peperangan diawali dengan aksi judi dimana kaum Pandawa kalah. Kekalahan ini menyebabkan mereka harus mengembara di hutan belantara selama dua belas tahun. Setelah itu, pada tahun ke-13 sesuai perjanjian dengan Kurawa, para Pandawa harus menyembunyikan diri di tempat tertentu. Namun para Pandawa memutuskan untuk bersembunyi di istana raja Matsyapati. Pada tahun berikutnya, para Pandawa keluar dari persembunyian dan memperlihatkan diri di muka umum lalu menuntut hak mereka kepada Kurawa. Namun tuntutan mereka tidak dipenuhi Kurawa hingga terjadi perang 18 hari yang menyebabkan lenyapnya kaum Kurawa. Dengan demikian, kaum Pandawa dengan leluasa mengambil alih kekuasaan di Barata.
Sumber: kisah mahabarata
Silsilah Kurawa dan Pandawa di atas adalah menurut versi Indonesia. Dalam versi India, para Pandawa bukanlah keturunan para dewa, Pandawa merupakan keturunan dari raja Nahusta, seorang raja di India.
Silsilah Pandawa dan Kurawa versi India sumber: silsilah-mahabarata
Menurut Mahabharat versi India, susunan silsilah itu disusun sebagai berikut, raja pertama yang memerintah India ialah Prabu Nahusta sebagai pendiri negara Hastina yang menurunkan raja-raja yaitu Prabu Nahusta, Prabu Yayati, Prabu Kuru, Prabu Dusanta, Prabu Barata, Prabu Hasti, Prabu Puru, Prabu Pratipa, Prabu Santanu hingga sampai Pandawa dan Kurawa.
Prabu Yadawa menurunkan raja-raja yang memerintah Mathura, seperti: Basudewa, Baladewa, Kresna dan lain-lainya. Prabu Puru yang menurunkan raja-raja yang memerintah negara Hastina, seperti Sentanu, Abiyasa, Pandu, Duryudana, Parikesit.
Prabu Kuru berputra Prabu Dusanta yang menikah dengan Dewi Sakuntala dan berputra Prabu Barata yang namanya dipakai gelar/julukan para Pandawa, sedangkan nama Prabu Kuru dipakai gelar para Kurawa.
Silsilah Mahabharata versi Pustaka Raja Purwa
Dimulai dari Batara Guru yang menikah dengan Dewi Uma, berputra empat orang di antaranya Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Batara Brahma menikah dengan Dewi Raraswati berputrakan sebelas orang, di antaranya Batara Brahmanaraja yang menikah dengan Dewi Widati dan berputra Batara Parikenan. Sedangkan Batara Wisnu berputrakan Prabu Basurata yang menikah dengan putri Batara Brahma bernama Dewi Brahmaniyuta, dan berputrakan Dewi Brahmaneki.
Begawan Parikenan kemudian menikah dengan Dewi Brahmaniyuta berputrakan Dewi Kaniraras, Raden Kano, Raden paridarma. Karena Dewi Kaniraras putri sulung, maka calon raja di Purwacarita adalah Begawan Manumayasa yang menikah dengan Dewi Kaniraras. Raden Kano dan Raden Paridarma menjadi raja di negara lain. Dewi Kaniraras menkah dengan Begawan Manumayasa berputra Begawan Sekutrem dan menikah dengan Dewi Nilawati, dari pernikahan itu berputra Begawan Sakri yang menikah dengan Dewi Sati dan berputra Parasara.
Diceritakan, bahwa Begawan Parasara hendak menyeberangi Bengawan Jamuna, ia diseberangkan oleh seorang wanita yang badanya bau amis dan anyir karena menderita penyakitat bau anyir, dia adalah Dewi Rara Amis (Durgandini) putra Prabu Basuketi raja negara Wiratha. Dewi Rara Amis diobati Raden Parasara yang kemudian diperistri dan berputra Abiyasa, mereka bersama-sama membangun negara Gajahoya.
Perbedaan yang jelas dari kedua silsilah itu adalah silsilah Mahabharata versi India disebutkan leluhur Pandawa adalah Prabu Nahusta, leluhur Pandawa versi Pusta Raja Purwa adalah Sang Hyang.
Belanja Gaun Wanita Bagus Murah
 

Bukan ini yang anda cari? Ketikkan kata kunci pencarian anda di sini ....

20 comments:

Wyndi Cenice said...

iya..., pusing...

Angga Apem said...

makasih info nya, walau agak pusing Dikit, da kudu kumaha deui ..
visit back ya .. http://aapem.blogspot.com

Yon Martin said...

kok arjuna knapa lahirnya atas perkawina dg dewa surya... dewa surya itu kan dewa matahari. Dari cerita mahabarata yg sering aku baca arjuna itu anaknya dewa indra yaitu dewa perang... Yang benar yg mana... Makasi

YUDI ESTHER said...

@mas Yon Martin: iya, dari wikipedia, Arjuna juga merupakan anak dari dewa Indra. Sumber yang lain anak dewa Surya, saya juga bingung mas. Bukan dalang sih, hehe...
Pandawa sebagai keturunan para dewa rupanya adalah bentuk penyesuaian di Jawa. Versi Indianya mereka bukan keturunan dewa.

Mentari Pagi said...

ya. salah cetak, tolong segera perbaiki, Arjuna bukan dengan dewa Surya tetapi Indra, Karna yang berayah Dewa Surya. Terima kasih.

Anonymous said...

aduh saya tidak menghadiri perkawinan bapak Arjuna jadi tidak tau siapa bapak yang benar nya

Anonymous said...

berarti dewi kunti selingkuh dari pandu yaaa...???

adi forki said...

bukannya karna putra dari dewa surya sebelum kunti menikah dengan pandu???

YUDI ESTHER said...

@Adi Forki: betul mas, kata bapak saya juga begitu. Jujur saja, saya juga puyeng... hehe....

neo said...

jadi ingat cerita bapak saya waktu masih kecil,beliau hafal yang versi terakhir tadi

kazima lg said...

lo....brt fersi yg difilim uda bayak yg di ruba..
jd bigung crtnya yg asli yg mn??

Yang Hot said...

Wah Keren ya ... ane nggak punya Facebook.. maklum masih gaptek...

Sri Lestari said...

Pusing.......

Rizky Putri said...

agak pusing .. tapi infonya bagus ..

siti aminah rahma yanti said...

wow bagus ceritanya.......
nanti aku beli kasetnya ahhh...... :)

Anonymous said...

berarti yg sekarang di ANTEVE mahabaratha versi Indonesia dong? yg main orang India.....hebat beneeerrrrr.

lowongan kerja said...

wahhh seik nih kalau nonton filmnya sekalian tahu ceritanya dari blog ini...
walau ada beberapa beda versi, tak mengapa untuk bahan pengetahuan...
thanks...

Natalia Ika Santoso said...

Bkn orng hindi itu tp orng luar yg ingin bljr hindi pinter bngt sutradara nya

Nazzila Az-Zahra said...

Dewa Surya setahuku anaknya iku si Karna, kalau dewa Indra baru si Arjuna ehehe... hmm suka cerita mahabartha, sayang banyak versiny jadi pusiiiing yg the real yg mana :D

UnduhDroid said...

di antv nih gan :)

Post a Comment

Silahkan tinggalkan komentar, tapi jangan nye-PAM ya ...
Setiap comment yang ada link-nya tidak bisa saya Publish, mohon maaf.
Supaya anda dapat backlink, silahkan memakai keyword sebagai nama. Itu jauh lebih baik dari pada menyertakan live link. Oyi?

◄ Newer Post Older Post ►
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

dee-nesia on Google+

dee-nesia on Facebook

Copyright 2011 - 2014 dee-nesia is proudly powered by blogger.com | Design by Tutorial Blogspot Published by